May 23, 2012

Self DIsclosure

Membuka diri terhadap orang lain (self disclosure) itu ibarat mata uang, memiliki dua sisi.
Di satu sisi berarti memasuki hubungan yang lebih matang.
Di sisi lain, terdapat risiko dicemooh dan dikhianati.
Bagaimanapun, self disclosure merupakan isyarat berkembangnya hubungan yang sehat yang perlu dikelola. namun tak jarang seseorang atau beberapa dari antara kita memilih untuk mentup diri dalam kasus tertentu yg tentunya berpatokan pada kondisi mereka pada saat itu. 
dikenal sebagai defensive mechanism, secara phsyicology di gunakan terhadap orang2 tertentu yang dengan sengaja menjauhkan diri mereka dari orang lain secara subjektif, hal ini seringkali muncul pada mereka yang lagi di landa masalah dan problematika bawaan yang kemudian secara bertahap mendapat label oleh otak sebagai sesuatu yang tidak boleh di share untuk orang lain.. tentunya blogger semua paham bahwa secara phsykis tindakan dan tingkah laku kita di pengaruhi oleh cara berpikir kita...( sekian about defensive mechanism ) 
back to the main topics.. <--->
Kadang-kadang kita dibuat kagum oleh seseorang yang dengan sangat terbuka dapat menceritakan apa saja yang ia pikirkan, rasakan, dan inginkan.
Meskipun banyak kesulitan atau kekurangan, hidup seolah dirasa sebagai hal yang ringan, dan dilakoni tanpa beban.
Kita dapat menjadi lebih nyaman berinteraksi dengan pribadi seperti itu.
Karena ia terbuka, kita pun dapat menjadi lebih terbuka, dan akhirnya relasi berlangsung lebih akrab dan saling percaya.
Namun, pada kesempatan lain kadang terjadi sebaliknya.
Kita justru merasa muak dengan seseorang yang terlalu membuka diri sampai ke hal-hal yang sangat pribadi, yang menurut kita tidak pantas untuk diceritakan kepada orang banyak.
Di samping kondisi positif dan negatif seperti digambarkan di atas, ada kondisi lain yang dapat kita jadikan referensi untuk menentukan kapan dan bagaimana sebaiknya kita membuka diri.
Keterbukaan diri diperlukan, terutama dalam hubungan-hubungan jangka panjang (persahabatan, perkawinan, pekerjaan, dan sebagainya), dan bahwa perlu ada aturan main tertentu agar keterbukaan diri itu bersifat konstruktif.
De Janasz, Dowd, dan Schneider (2002) dalam bukunya Interpersonal Skills in Organizations memberikan informasi mengenai bagaimana membuka diri, manfaat, serta hal-hal yang menghambat.
 Hal yang Diungkapkan
Ada rambu-rambu dalam pengungkapan diri agar hubungan menjadi efektif:
 * Lebih mengungkapkan perasaan daripada fakta.
Bila kita mengungkapkan perasaan terhadap orang lain, berarti kita mengizinkan orang lain mengenali siapa kita sesungguhnya.
Misalnya, informasi bagaimana kita mengembangkan hubungan dengan saudara-saudari kita membuat orang lain memahami kita, daripada sekadar memberikan informasi bahwa kita memiliki saudara.
* Semakin diperluas dan diperdalam.
Mungkin kita masih mengalami perasaan tidak nyaman berbagi pengalaman dengan seseorang yang seharusnya dekat dengan kita.
Untuk itu perlu dilakukan pengembangan hubungan ke arah yang lebih dalam (lebih mengungkapkan perasaan terhadap isu tertentu) dan diperluas (dengan mendiskusikan berbagai isu, seperti pekerjaan, keluarga, pengalaman religius, dan sebagainya).
 * Fokus pada masa kini, bukan masa lampau.
Bila berbagi pengalaman soal masa lalu menjelaskan mengapa dulu kita melakukan tindakan tertentu adalah bersifat katarsis (melepaskan ketegangan), tetapi dapat meninggalkan perasaan bahwa kita lemah.
Hal ini terjadi terutama bila keterbukaan tidak berlangsung timbal balik. Jadi, lebih baik kita fokus pada situasi sekarang.
 * Timbal balik.
Kita harus selalu mencocokkan tingkat keterbukaan kita dengan tingkat keterbukaan orang yang kita jumpai.
Hati-hati, jangan terlalu membuka diri secara dini, sebelum melewati masa-masa pengembangan hubungan yang familier dan saling percaya.
Di sisi lain, bila diperlukan, tidak perlu menunggu orang membuka diri. Jangan takut untuk memulai langkah penting membangun hubungan.
Berikan contoh, dan orang lain akan menyesuaikan diri. Bila orang tidak merespon secara seimbang, hentikan langkah tersebut.
 Banyak Manfaat
Keterbukaan diri memiliki manfaat bagi masing-masing individu maupun bagi hubungan antara kedua pihak.
Dengan membuka diri dan membalas keterbukaan diri orang lain, kita dapat meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan orang lain.
Secara rinci manfaatnya adalah:
* Meringankan.
* Membantu validasi (menguji ketepatan) persepsi terhadap realita.
* Mengurangi tegangan dan stres.
* Alur komunikasi yang lebih jelas.
* Mempererat hubungan.
Lebih dari itu, hasil riset menemukan bahwa bila antar rekan kerja semakin menyukai kerja sama, mereka lebih produktif dalam mengerjakan proyek atau dalam situasi tim..

JAH BLESS
 ' Lopce ' \_/
_________

0 Comments:

Post a Comment

© P A S T 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis